BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pada alinea keempat Undang-undang Dasar 1945 disebutkan bahwa pemerintah Negara Republik Indonesai berkewajiban untuk ”mencerdaskan kehidupan bangsa”, dan diperjelas lagi dalam pasal 31 ayat 1 dinyatakan ”bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.” Pendidikan adalah merupakan alat yang paling penting untuk mengembangkan potensi kehidupan manusia, baik intelegensia, kreativitas, maupun akhlak al-karimah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan. Aktivitas pendidikan terkait dengan tujuan pembentukan manusia seutuhnya dalam rangka memajukan peradaban. Sebagaimana tertuang dalam undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003, Bab II, pasal 3 dirumuskan bahwa:
”Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia; sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Jelaslah disini bahwa pemerintah dan masyarakat harus bahu membahu dalam melaksanakan pendidikan, yang diawali dengan pemberantasan buta aksara. Karena walaupun pemerintah sudah menetapkan program wajib belajar 9 tahun dan program pemberantasan buta aksara seperti Program Keaksaraan Fungsional (Program KF), namun demikian program-program tersebut belum berhasil menurunkan besarnya buta aksara sehingga sampai saat ini buta aksara tetap saja masih tinggi. Padahal tekad pemerintah pada tahun 2005 lalu mencanangkan Program Percepatan Pemberantasan Buta Aksara yang ditargetkan tuntas pada tahun 2009.
Berdasarkan data BPS tahun 2003-2004, posisi kebutaaksaraan penduduk Indonesia usia 10 tahun ke atas sebesar 15.533.271 orang, terdiri atas perempuan sebanyak 10.643.823 orang (67%) dan laki-laki sebanyak 5.042.338 orang (32,1 %). Pada usia 10-44 tahun sebesar 4.410.627 orang. Usia 15-44 tahun sebesar 3.986.187 orang. Angka buta aksara tersebut masih akan bertambah, mengingat angka tingkat putus belajar pada kelas-kelas awal (1-3) SD/MI saat ini masih 200.000 s.d. 300.000 per tahun. Khusus di bidang pendidikan, data susenas 2003 menunjukan bahwa penduduk perempuan usia 20 tahun ke atas yang tidak/belum pernah sekolah jumlahnya dua kali lipat penduduk laki-laki 911,56% berbanding 5,43%). Penduduk perempuan yang buta aksara sebesar 12,285, sedangkan laki-laki 5,82% atau dengan kata lain bahwa jumlah buta aksara pada perempuan lebih banyak 2 samapai 3 kali lipat dari laki-laki.
Sementara itu kebutaaksaraan juga sangat terkait dengan kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, dan ketidakberdayaan masyarakat. Sehingga permasalahan buta aksara ini tidak saja menjadi permasalahan nasional tetapi sudah diangkat menjadi permasalahan internasional. Atas dasar itu, UNESCO, UNICEF, WHO, World Bank, dan badan-badan internasional lain menjadi sangat gencar mengkampanyekan dan mensosialisasikan akan pentingnya pemberantasan buta aksara di seluruh dunia termasuk Indonesia.
Dikarenakan Indonesia adalah negara yang beragama, maka untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut, pemerintah wajib menyelenggarakan pendidikan agama sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan pada Bab II pasal 3 ayat 1 dikatakan bahwa:
“Setiap satuan pendidikan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan wajib menyelenggarakan pendidikan agama.”
Kemudian pada pasal 2 ayat 1 dan 2 dikatakan bahwa:
“Pendidikan agama berfungsi membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlakul mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antar umat beragama.”
“Pendidikan agama bertujuan untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.”
Dalam pandangan Islam, pendidikan wajib dilaksanakan sepanjang hayat, sehingga kehidupan bagi seorang muslim adalah proses dan sekaligus lingkungan pembelajaran. Jika seseorang berhenti belajar pasti tertinggal dan tergilas zaman. Selanjutnya, apabila kita memperhatikan ayat-ayat yang pertama diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad, maka nyatalah bahwa Allah telah menekankan perlunya orang belajar baca-tulis dan belajar ilmu pengetahuan. Firman Allah dalam surat Al-‘Alaq ayat 1-5 :
وَرَبُّكَ اقرَأ (٢) عَلَقٍ مِن لإِنسٰنَ ا خَلَقَ (١)خَلَقَ الَّذى رَبِّكَ بِاسمِ اقرَأ
(٥)يَعلَم لَم ما الإِنسٰنَ عَلَّمَ بِالقَلَمِ عَلَّمَ الَّذى (٣)الأَكرَمُ
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui.”
Dalam hadis Rasulullah saw. Dikatakan:
“Sebaik-baik kalian adalah siapa yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya (HR. Al-Bukhari).
“Siapa saja membaca satu huruf dari kitab Allah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya (HR. At-Tirmidzi).
Dari ayat-ayat dan hadis tersebut, jelaslah bahwa agama Islam mendorong umatnya agar menjadi umat yang pandai, dimulai dengan belajar baca tulis dan dilanjutkan dengan belajar berbagai macam ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, dalam hal ini pemerintah tidak cukup hanya memberantas buta aksara latin saja, tetapi tidak kalah penting juga mmeberantas buta aksara Al-Qur’an sebagai pedoman umat muslim yang di dalamnya terdiri dari berbagai macam ilmu pengetahuan. Mengapa demikian? Dikarenakan fenomena yang terjadi pada masyarakat Indonesia, salah satu contoh di kota Depok, pada tahun 2006 tercatat angka buta aksara latin mencapai angka 13.000 jiwa, dan buta aksara Al-Qur’an lebih banyak yaitu mencapai angka 20.000 jiwa. Hal ini tidak menutup kemungkinan terjadi juga di daerah-daerah lainnya termasuk di propinsi Banten.
Propinsi Banten yang jumlah penduduknya lebih dari 8 juta jiwa dan lebih dari 95% dari jumlah tersebut mayoritas beragama Islam, memiliki sumber daya manusia yang potensial untuk dikembangkan terutama kaum perempuannya. Akan tetapi berdasarkan laporan kepala Dindik Propinsi Banten, Eko Endang Koswara kepada anggota komisi X DPR RI, Didik J Rachbini pada rapat tertutup di hotel Le Dian, Rabu 30 April 2008 menyebutkan, bahwa data penyandang buta aksara di Propinsi Banten mencapai angka 226.762, dan berada di urutan 10 besar penyandang buta aksara nasional. Karena dari sekitar 11 juta penduduk Indonesia penyandang buta aksara pada tahun 2006-2007, terdapat sekitar 3,3 % berada di Banten. Sementara data lain menyebutkan, jumlah penyandang buta aksara usia 15 tahun ke atas di Propinsi Banten pada tahun 2006 itu mencapai 305.677 orang, terdiri atas 96.668 laki-laki dan 208.502 perempuan. Pada tahun 2008 lalu masih berkisar 300.041 orang.
Jadi jelas, bahwa jumlah buta aksara perempuan ternyata lebih banyak dari laki-laki. Adapun mengenai jumlah aksara Al-Qur’an belum ada angka yang pasti. Akan tetapi berdasarkan pengamatan langsung penulis pada ibu-ibu rumah tangga di Banten, khususnya di kelurahan Sumur Pecung kecamatan Serang Kota Serang masih banyak yang mengalami buta aksara Al-Qur’an. Contoh dari tiga majelis ta’lim di lingkungan kelurahan Sumur Pecung yang penulis observasi, yang masing-masing majelis berjumlah kurang lebih 30 orang, sebanyak 80% dari jumlah tersebut adalah buta aksara Al-Qur’an. Lebih jelasnya dari 30 ibu-ibu rumah tangga, 24 diantaranya buta huruf Al-Qur’an. Padahal posisi perempuan sebagai ibu di lingkungan rumah tangga dilihat dari segi tanggung jawab pemeliharaan dan pendidikan anak merupakan pusat pendidikan yang menentukan masa depan bangsa.
Masalah ini memerlukan pemikiran yang mendalam guna dapat dicarikan jalan pemecahannya. Faktor-faktor apa saja yang meyebabkan terjadinya buta aksara Al-Qur’an pada ibu-ibu rumah tangga dan metode apa yang tepat untuk diterapkan dalam rangka menurunkan angka buta aksara Al-Qur’an tersebut. Oleh karena itu penulis merasa perlu untuk mengangkatnya ke dalam penelitian dengan judul “EFEKTIFITAS METODE IQRO DALAM PEMBERANTASAN BUTA AKSARA AL-QUR’AN PADA IBU-IBU RUMAH TANGGA (Penelitian di Kelurahan Sumur Pecung Kecamatan Serang Kota Serang Banten)
2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dalam penelitian ini dapat diidentifikasi beberapa permasalahan:
- Berapa banyak jumlah buta aksara Al-Qur’an pada ibu-ibu rumah tangga di kelurahan Sumur Pecung kecamatan Serang kota Serang Banten?
- Faktor-faktor apa saja penyebab tingginya angka buta aksara Al-Qur’an pada ibu-ibu rumah tangga di kelurahan Sumur Pecung kecamatan Serang kota Serang Banten.
- Efektifkah metode IQRO digunakan dalam memberantas buta aksara Al-Qur’an pada ibu-ibu rumah tangga di kelurahan Sumur Pecung kecamatan Serang kota Serang Banten.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah). Keutamaannya atas segala perkataan seperti keutamaan Allah ‘Azza Wa Jalla atas seluruh makhluknya. Membacanya adalah amalan yang paling utama dilakukan oleh lisan dan bernilai ibadah.
Mengenai keutamaan membaca, mempelajari, dan mengajarkan Al-Qur’an ini telah diungkapkan oleh Rasulullah saw. Dalam hadis-hadis berikut:
1. Pahala membacanya:
“Siapa saja membaca satu huruf dari kitab Allah (Al-Qur’an) , maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.” (HR. At-Tirmidzi).
2. Keutamaan mempelajari Al-Qur’an , menghafalnya dan pandai membacanya:
“Perumpamaan orang yang membaca Al-Qur’an sedang ia hafal, dengannya bersama para malaikat yang suci dan mulia, sedang perumpamaan orang yang membaca Al-qur’an sedang ia senantiasa melakukannya meskipun hal itu sulit baginya, maka baginya dua pahala.” (HR. Muttafaq ‘Alaih).
3. Pahala mengajarkannya:
“Sebaik-baik kalian adalah siapa yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari).
4. Al-Qur’an member syafaat kepada ahlinya di akhirat:
“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat kepada para ahlinya.” (HR. Muslim).
Jadi jelas, bahwa agama Islam mendorong umatnya agar menjadi umat yang pandai, dimulai dengan belajar baca tulis dan dilanjutkan dengan belajar berbagai macam ilmu pengetahuan. Kewajiban menuntut ilmu ini berlaku untuk semua baik laki-laki maupun perempuan. Adapun lingkungan yang pertama dan utama dalam pendidikan adalah lingkungan keluarga, dimana ibu adalah orang pertama yang memberikan sentuhan kasih sayang sedemikian rupa, mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui dan memeliharanya dengan intensitas yang lebih sering dan kualitas interaksi yang bersifat edukatif. Atas dasar pertimbangan ini sangat tepat jika ibu disebut sebagai madrasah utama, sebagaimana diungkapkan Hafezd Ibrahim dalam sya’irnya yang dikutip oleh Fadlullah (2008; hal. 146) berikut ini:
“Ibu adalah madrasah, apabila dipersiapkan dapat membentuk bangsa yang baik lagi kuat.”
Dengan demikian, posisi ibu jika dilihat dari segi tanggung jawab pemeliharaan dan pendidikan anak merupakan pusat pendidikan yang menentukan masa depan bangsa. Menurut Ali Syari’ati, konsep ibu dilambangkan dalam kata “Umm” seakar kata dengan “Imam” yang menggambarkan konsep kepemimpinan, dan kata “Ummah” yang menggambarkan kesatuan social manusia atau bangsa. Melalui pendekatan kebahasaan ini dapat ditarik pemahaman bahwa peranan ibu sebagai madrasah utama sangat strategis dalam membina dan menyiapkan komunitas baru (ummah) yang baik lagi kuat, serta meretas kader kepemimpinan (Imam) masa depan yang memiliki integritas watak dan pribadi yang bermoral, ketajaman intelektual dan kreativitas yang tinggi, serta memiliki jiwa leadership yang mantap dan penuh percaya diri (Fadlullah, 2008)
Untuk melakukan tugas yang mulia ini, seorang ibu dituntut untuk menjadikan dirinya seorang pendidik yang handal dan bertanggung jawab, serta mempunyai ilmu yang memadai. Sehingga tugas yang mulia ini tidaklah dapat diberikan kepada sembarang wanita. Sementara fenomena yang terjadi pada ibu-ibu rumah tangga khususnya di Banten, masih tingginya angka buta aksara baik latin maupun aksara Al-Qur’an. Pada tahun 2008 yang lalu saja masih berkisar 300.041 orang.
Program pemberantasan buta aksara (PBA) ini merupakan program nasional yang dicanangkan sejak tahun 2003. Kemudian tahun 2005, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan program percepatan pemberantasan buta aksara yang ditargetkan tuntas pada tahun 2009 ini. Seluruh daerah termasuk propinsi Banten, turut mencanangkan program tersebut dengan menyusun sasaran dan tentu saja anggaran.
Untuk mengatasi permasalahan buta aksara ini, pemerintah pusat telah mengeluarkan beberapa landasan hukum sekaligus sebagai dasar kebijakan dalam memberantas buta aksara, yaitu:
1. Instruksi Presiden No. 5 tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajar Dikdas 9 tahun dan Pemberantasan Buta aksara.
2. Keputusan bersama Mendiknas, Mendagri, dan Meneg PP tentang Percepatan Pemberantasan Buta Aksara Perempuan.
3. Kerjasama Mendiknas dengan berbagai organisasi sosial kemasyarakatan di antaranya: PKK Pusat, Muslimat NU, Aisyiyah, Kowani, dan Wanita Islam.
4. Keputusan MENKOKESRA No. 22 tahun 2006 tentang Tim Koordinasi Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajar Dikdas dan Pemberantasan Buta Aksara.
5. Keputusan Mendiknas No. 35 th 2006 tentang Pembentukan Tim Pelaksana Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan wajar Dikdas dan pemberantasan Buta Aksara dan pembentukan sekretariatnya.
6. Keputusan Dirjen PLS No. Kep-82/E/MS/2007 tentang Pembentukan Kelompok Kerja GNP-PBA.
Program pemberantasan buta aksara selama ini sering berjalan pasang surut. Hal ini disebabkan karena berbagai hal diantaranya:
1. Kesadaran akan pentingnya tingkat keaksaraan penduduk belum menjadi kesadaran kolektif.
2. Rendahnya tingkat perekonomian keluarga.
3. Sosial budaya yang masih bias gender (budaya patriarchi).
4. Rendahnya political will dari penyelenggara Negara (pemerintah dan DPR).
5. Rendahnya anggaran yang disediakan untuk program pendidikan keaksaraan, jika dibandingkan dengan program-program dalam satu faktor (faktor pendidikan) maupun luar faktor yang sangat terkait dengan program ini seperti faktor kesehatan, keluarga berencana, ketenagakerjaan, dan lain-lain.
Permasalahan selanjutnya adalah bagaimana program pemberantasan buta aksara Al-Qur’an dilaksanakan dan metode apa yang akan diterapkan dan yang mudah diserap oleh ibu-ibu rumah tangga. Menurut hemat penulis, karena selama ini program buta aksara yang digulirkan pemerintah masih terbatas pada buta aksara latin dan masih langkanya program buta aksara Al-Qur’an, maka data tentang jumlah pasti buta aksara Al-Qur’an pun sulit untuk diketahui. Begitu pula mengenai metode yang tepat diterapkan.
Dalam hal ini penulis berpatokan pada metode yang ada dan sudah pernah digunakan di masyarakat. Dari berbagai macam metode yang ada tersebut, dengan keterbatasan biaya, tenaga, dan waktu, maka dalam penelitian ini akan diterapkan satu metode saja yang sudah dikenal di masyarakat dan yang paling banyak digunakan serta mudah didapat, karena tersedia di took-toko buku. Metode tersebut adalah metode “IQRO”. Hal ini berdasarkan pada pengalaman di kota Depok pada tahun 2008, sebagaimana laporan BAP Bidang Pendidikan dalam program penuntasan buta aksara latin dan al-Qur’an yang telah sukses melaksanakan program penuntasan buta aksara tersebut dengan menggunakan metode iqro, terbukti lebih efektif dan lebih cepat dicerna oleh otak. Di kota Depok pada tahun 2006 tercatat angka buta aksara Al-Qur’an sebanyak 20.000 jiwa. Ternyata dengan menggunakan metode iqro, pada tahun 2007 selama 4 bulan masa belajar dengan jumlah pertemuan minimal 3 kali setiap minggu @ 90 menit, sebanyak 3.250 orang warga belajar yang dapat “melek aksara”.
Metode iqro itu sendiri adalah metode cepat belajar membaca Al-Qur’an yang terdiri atas enam jilid, disusun secara praktis dan sistematis oleh KH. As’ad Humam, Balai Litbang LPTQ Nasional, Team Tadarus “AMM” Yogyakarta tahun 1980-an. Sehingga memudahkan bagi setiap orang yang belajar dan mengajarkan membaca Al-Qur’an dalam waktu yang actori singkat.
Ada beberapa sifat metode iqro, yaitu:
1. Bacaan langsung tanpa dieja.
1. CBSA (cara belajar santri aktif), guru hanya penyimak saja, jangan sampai menuntun, hanya cukup memberikan contoh pokok saja.
2. Privat/klasikal, penyimakan secara seorang demi seorang. Atau bila klasikal, santri dikelompokan berdasarkan persamaan kemampuan. Guru menerangkan pokok-pokok pelajaran secara klasikal dengan menggunakan peraga, dan secara acak santri dimohon membaca bahan latihan.
3. Asistensi, santri yang lebih tinggi jilidnya, dapat membantu menyimak santri lain.
4. Praktis, sistematis, variatif, komunikatif, dan fleksibel.
5. Buku Iqro dijual bebas di took-toko, dengan harga yang actori terjangkau sekitar Rp 5.000 sampai Rp 10.000.
BAB III
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
1. Tujuan Penelitian.
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Mengetahui dan mengidentifikasi jumlah buta aksara Al-Qur’an pada ibu-ibu rumah tangga di kelurahan Sumur Pecung kecamatan Serang kota Serang Banten.
2. Mengetahui faktor-faktor penyebab tingginya angka buta aksara Al-Qur’an pada ibu-ibu rumah tangga di kelurahan Sumur Pecung kecamatan Serang kota Serang Banten.
3. Mengetahui efektifitas metode IQRO dalam memberantas buta aksara Al-Qur’an pada ibu-ibu rumah tangga di kelurahan Sumur Pecung kecamatan Serang kota Serang Banten.
2. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah:
1. Berkurangnya jumlah buta aksara Al-Qur’an dan meningkatnya jumlah melek aksara Al-Qur’an pada ibu-ibu rumah tangga.
2. Memberikan informasi kepada pemerintah daerah dalam menentukan arah kebijakan dalam pemberantasan buta aksara Al-Qur’an.
BAB IV
METODE PENELITIAN
1. Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis, dengan lokasi penelitian ditetapkan secara sengaja (purposiv) yaitu dipilih kelurahan Sumur Pecung kecamatan Serang kota Serang Banten. Alasan pengambilan lokasi tersebut adalah karena kelurahan Sumur Pecung berada di pusat kota dan karakteristik masyarakatnya relatif homogen. Selanjutnya berdasarkan hasil observasi peneliti di beberapa tempat ditemukan masih banyaknya ibu-ibu rumah tangga yang buta aksara khususnya aksara Al-Qur’an.
2. Pendekatan yang dilakukan
Pemberantasan buta aksara Al-Qur’an ini dilaksanakan dengan menggunakan metode IQRO. Hal ini dilakukan karena metode pembelajaran Al-Qur’an dengan menggunakan metode IQRO yang selama ini dilaksanakan ternyata lebih cepat dicerna oleh otak, sehingga memungkinkan untuk lebih efektif dan efisien dalam mencapai tujuan.
Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan langsung, yaitu langsung dibaca tanpa dieja, langsung berhadapan atau tatap muka:
♦ Pembelajaran aktif
♦ Sistematis
♦ Tematis
♦ Fleksibel
♦ Asistensi
♦ Bimbingan kerohanian
♦ Bimbingan keterampilan
3. Penetapan Kelompok Sasaran dan Lokasi Kegiatan
a. Kelompok sasaran pemberantasan buta aksara Al-Qur’an
1) Untuk kegiatan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an ini dilakukan proses pembelajaran terhadap ibu-ibu rumah tangga – yang selanjutnya disebut warga belajar – dengan membentuk kelompok-kelompok belajar yang masing-masing kelompok tersebut akan dipandu oleh satu tutor keaksaraan. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposiv sampling, dimana ibu-ibu yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah ibu-ibu rumah tangga berdasarkan karakteristik tertentu, yaitu dilihat dari latar belakang pendidikannya.
Ada 4 kategori yang akan dijadikan sampel penelitian, yaitu:
a) Ibu-ibu rumah tangga tamat SD, berjumlah 1100 orang.
b) Ibu-ibu rumah tangga tamat SLTP, berjumlah 270 orang.
c) Ibu-ibu rumah tangga tamat SLTA, berjumlah 570 orang .
Karena jumlah populasi lebih dari 100 yaitu 1.940, maka diambil sampel sebanyak 10% dari jumlah populasi tersebut yaitu 194 orang. Dari jumlah tersebut, kemudian diadakan tes kemampuan baca tulis Al-Qur’an dalam rangka identifikasi warga belajar dan kelompok belajar. Sasaran dari penelitian ini adalah ibu-ibu yang betul-betul tidak mampu membaca Al-Qur’an. Sehingga ditetapkanlah 30 orang warga belajar dengan 3 kelompok belajar (pokjar), masing-masing pokjar 10 orang dengan 2 tutor.
Data yang dikumpulkan pada penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dan observasi langsung. Sedang data sekunder diperoleh dari dokumen resmi dari instansi terkait.
Setelah semua data terkumpul, dianalisis dengan menggunakan dua pendekatan yaitu logika dan statistika. Pendekatan logika digunakan untuk data yang bersifat kualitatif yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi langsung. Sedang pendekatan statistika digunakan untuk data yang bersifat kuantitatif , yang diperoleh dari hasil tes.
2) Pendukung kegiatan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an ini adalah :
a) Unsur Kelurahan.
b) Tim penggerak PKK.
c) Para tokoh masyarakat.
d) Majelis Ta’lim.
e) Organisasi kemasyarakatan lainnya.
b. Kelompok sasaran pelatihan Tutor Keaksaraan.
1) Secara umum sasaran pelatihan tutor adalah yang mempunyai potensi dan kecakapan hidup yang dimiliki, latar belakang pendidikan, domisili dan berpengalaman dalam pendidikan orang dewasa.
2) Jumlah tutor yang dilatih sebanyak pokjar yang akan dibentuk.
c. Tempat kegiatan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an.
Tempat kegiatan akan dilaksanakan di masjid/musholla, majlis ta’lim, bahkan bila perlu dapat dilaksanakan di sekolah/madrasah dengan melibatkan guru di sekolah/madrasah tersebut.
d. Tempat kegiatan pelatihan tutor keaksaraan.
Tempat pelatihan direncanakan di aula kelurahan Sumur Pecung atau tempat lain yang representatif. Pelatihan ini dilaksanakan sebelum pelaksanaan proses pembelajaran.
4. Uraian Teknis Kegiatan
a. Identifikasi
1) Pemetaan warga belajar dan kelompok belajar untuk mengetahui karakteristik tentang kebutuhan, minat, dan kemampuannya.
2) Pemetaan calon tutor untuk mengetahui karakteristik tutor tentang potensi dan kecakapan hidup yang dikuasai, dengan kriteria sebagai berikut:
► Pendidikan minimal SLTA.
► Berpengalaman sebagai tenaga pendidik orang dewasa.
► Berdomisili di sekitar lokasi kegiatan.
► Dapat berkomunikasi secara lisan dan tulisan dengan jelas dan
benar.
► Mampu baca tulis Al-Qur’an dengan baik sesuai kaidah tajwid.
3) Pengelola dilaksanakan oleh kelurahan, RT/RW, PKK, DKM, Majlis Ta’lim, LSM atau organisasi kemasyarakatan lainnya.
b. Persiapan
1) Penyiapan kurikulum keaksaraan dan modul-modul paket keaksaraan dengan bersumber pada buku teks, majalah, koran, selebaran, poster, dan atau bahan ajar yang diciptakan sendiri oleh warga belajar bersama dengan tutor.
2) Penetapan jadwal dan kontrak belajar. Jadwal kegiatan belajar disusun berdasarkan kesepakatan antara warga belajar dan tutor. Jumlah pertemuan tutorial atau jumlah jam belajar minimal 2 kali setiap minggu @ 90 menit, selama 3 bulan. Kontrak belajar ini dilakukan untuk menjamin keberlangsungan kegiatan belajar sampai selesai program.
3) Penyiapan media belajar, dengan menggunakan media yang ada di sekitar lingkungan belajar.
4) Penyiapan instrumen penilaian keaksaraan.
- Penyelenggaraan proses belajar mengajar.
Pelaksanaan proses belajar mengajar dari masing-masing pokjar berjumlah 10 orang warga belajar dengan 2 tutor. Dimulai dari bulan Mei dan berakhir bulan Juli 2009. Selanjutnya akan dilakukan tes dan akan diberikan “SUKMA” (Surat Melek Aksara).
- Evaluasi hasil belajar
Evaluasi dilaksanakan secara bersama-sama antara warga belajar dan tutor dengan menekankan kepada evaluasi diri sendiri (self evaluation) dan evaluasi kemajuan belajarnya.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Gambaran Umum Daerah Penelitian
Lokasi penelitian terletak di kelurahan Sumur Pecung, kecamatan Serang, kota Serang, Banten. Kelurahan Sumur Pecung terdiri atas 23 Rukun Warga (RW) yaitu: Sumur Pecung, Muncung, Kidang, Cipete, Ciwaktu Kidul, Ciwaktu Lor, Karang Tumaritis, Ciceri Jaya, Sumber Agung, Ciloang, KPN, Ciceri Indah, P&K, GGS, Ciceri Permai, Bungur Indah, Komplek DPRD, Permata, Penancangan, Sumur Pecung Jaya, Sumur Pecung Pemda, Pakojan.
Batas wilayah kelurahan Sumur Pecung adalah sebelah utara berbatasan dengan kelurahan Kaligandu; sebelah selatan berbatasan dengan kelurahan Cipocok Jaya; sebelah barat berbatasan dengan kelurahan Cipare dan Cimuncang; sebelah Timur berbatasan dengan kelurahan Banjar Agung dan Penancangan.
Jarak kelurahan Sumur Pecung ke kecamatan adalah tiga kilometer, begitu pun jarak ke ibu kota juga tiga kilometer.
Luas wilayah kelurahan Sumur Pecung adalah 132,52 hektar. Penggunaan lahan di kelurahan Sumur Pecung dapat dilihat dalam table 1 di bawah ini:
Tabel 1. Jenis Penggunaan Lahan di Kelurahan Sumur Pecung
|
No. |
Penggunaan Lahan |
Luas (Ha) |
Persentase (%) |
|
1. |
Pemukiman |
71,5 |
58,6 |
|
2. |
Bangunan (Sekolah, Pertokoan, dll) |
5 |
4,1 |
|
3. |
Pekuburan |
1 |
0,8 |
|
4. |
Tempat Peribadatan |
0,5 |
0,4 |
|
5. |
Pertanian sawah |
32 |
26,2 |
|
6. |
Perkebunan |
2 |
1,6 |
|
7. |
Fasum |
3 |
2,5 |
|
8. |
Jalan |
5 |
4,1 |
|
9. |
Lain-lain |
2 |
1,6 |
|
|
Jumlah |
122 |
100 |
Sumber: Profil: Kelurahan Sumur Pecung, 2002
Dari luas lahan yang digunakan di kelurahan Sumur Pecung, 50% untuk pemukiman, sedangkan 26,2% untuk pertanian sawah. Kelurahan Sumur Pecung actor 50% berada di tengah kota, sehingga penggunaan lahan untuk sawah sudah berkurang. Oleh karenanya, mata pencaharian penduduk juga lebih banyak sebagai pegawai dan karyawan pabrik.
Jumlah penduduk kelurahan Sumur Pecung sebanyak 19.812 jiwa. Jumlah penduduk laki-laki sebanyak 9.707 jiwa, sedangkan jumlah penduduk perempuan sebanyak 10.105 jiwa. Dari jumlah penduduk perempuan tersebut, ada sekitar 3.991 jiwa yang sudah berkeluarga. Jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan ini dapat dilihat pada table 2 di bawah ini:
Tabel 2. Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan
|
No. |
Tingkat Pendidikan |
Jumlah (Jiwa) |
Persentase (%) |
|
1. |
SD |
1100 |
50 |
|
2. |
SLTP |
270 |
12 |
|
3. |
SLTA |
570 |
26 |
|
4. |
Sarjana |
260 |
12 |
|
|
Jumlah |
2.200 |
100 |
Adapun mengenai jumlah penduduk berdasarkan mata pencahariannya dapat dilihat pada tabel 3 di bawah ini:
Tabel 3. Penduduk menurut Mata Pencahariannya
|
No. |
Mata Pencaharian |
Jumlah (jiwa) |
Persentase (%) |
|
1. |
PNS |
1031 |
17,5 |
|
2. |
Karyawan BUMN/Swasta |
1928 |
32,6 |
|
3. |
Petani |
277 |
4,7 |
|
4. |
Wiraswasta |
348 |
5,9 |
|
5. |
Pertukangan |
140 |
2,4 |
|
6. |
Buruh |
1335 |
22,6 |
|
7. |
Pensiunan |
830 |
14,1 |
|
8. |
Pemulung |
10 |
0,2 |
|
|
Jumlah |
5899 |
100 |
Dari jumlah penduduk menurut mata pencaharian seperti yang terlihat pada table 3 tersebut, sebanyak 32,6% adalah karyawan baik swasta maupun BUMN. Kemudian 22,6% adalah buruh dan 17,5% adalah PNS. Jadi dapat dikatakan bahwa penduduk kelurahan Sumur Pecung sebagian besar bergerak di sektor jasa baik perusahaan maupun pemerintahan dan sebagian kecil adalah petani dan pertukangan.
Sarana dan prasarana yang ada di kelurahan Sumur Pecung adalah SD sebanyak 13 buah, SMP 2 buah, MTS 1 buah, SLTA 2 buah, Perguruan Tinggi 3 buah. Sedangkan sarana peribadatan adalah masjid sebanyak 20 buah, langgar 43 buah.
2. Karakteristik Responden
Responden adalah ibu-ibu rumah tangga baik yang bekerja maupun yang tidak. Karakteristik responden berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel 4 di bawah ini:
Tabel 4. Karakteristik Responden berdasarkan Umur
|
No. |
Umur Responden (Tahun) |
Jumlah (Jiwa) |
Persentase (%) |
|
1. |
26 – 29 |
3 |
10 |
|
2. |
30 – 39 |
5 |
16.67 |
|
3. |
40 – 49 |
11 |
36.67 |
|
4. |
50 – 59 |
7 |
23.33 |
|
5. |
60 – 69 |
4 |
13.33 |
|
|
Jumlah |
30 |
100 |
Dari tabel 4, terlihat bahwa sebagian besar ( 36,67 %) responden berumur antara 40-49 tahun, sebanyak ( 23.33 %) berumur 50-59 tahun, dan ( 13 % ) berumur 60-69 tahun. Jika dilihat persentase umur responden keseluruhan adalah ibu-ibu rumah tangga usia lanjut.
Adapun karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 5 di bawah ini:
Tabel 5. Karakteristik Responden berdasarkan Tingkat Pendidikan
|
No. |
Tingkat Pendidikan |
Jumlah (Jiwa) |
Persentase (%) |
|
1. |
SD |
9 |
30 |
|
2. |
SLTP |
9 |
30 |
|
3. |
SLTA |
12 |
40 |
|
|
Jumlah |
30 |
100 |
Dari tabel 5 dapat dilihat bahwa 12 % Responden berpendidikan SLTA, sedangkan lulusan SLTP 30%. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan responden sudah cukup lumayan, walaupun masih ada responden 30% berpendidikan SD.
Selanjutnya mengenai karakteristik responden berdasarkan jenis pekerjaannya, bahwa sebagian besar bahkan hampir seluruh responden adalah ibu rumah tangga, walaupun tingkat pendidikan mereka pada umumnya sudah cukup. Hanya ada dua responden saja yang berprofesi sebagai guru.
3. Realitas Jumlah Buta Aksara Al-Qur’an pada Ibu-ibu Rumah Tangga di Kelurahan Sumur Pecung Kota Serang
Untuk mengetahui jumlah buta aksara pada ibu-ibu rumah tangga di Kelurahan Sumur Pecung ini, kegiatan yang dilakukan adalah:
a. Penetapan Lokasi Kegiatan
Lokasi untuk kegiatan penelitian ini ditetapkan di tiga RW yang berada di lingkungan kelurahan Sumur Pecung Kota Serang, yaitu Bungur Indah, Ciwaktu Kidul, dan Ciwaktu Lor.
b. Pemetaan Warga Belajar dan Kelompok Belajar
Pemetaan warga belajar dan kelompok belajar ini didasarkan pada hasil tes kemampuan baca Al-Qur’an dengan klasifikasi sebagai berikut:
1) Tidak bisa baca Al-Qur’an.
2) Lancar baca Al-Qur’an tapi terbata-bata.
3) Lancar baca Al-Qur’an tetapi tidak sesuai dengan kaidah tajwid.
4) Lancar baca Al-Qur’an sesuai kaidah tajwid.
Setelah diklasifikasikan, maka selanjutnya diadakan tes dengan menggunakan lembar penjajagan IQRO guna menentukan dari buku IQRO jilid berapa pembelajaran dimulai untuk masing-masing warga belajar. Sasaran penelitian ini adalah mereka yang berada di urutan pertama yaitu ibu-ibu rumah tangga yang benar-benar tidak bisa baca Al-Qur’an. Dari jumlah sampel yang dites yaitu 253 ibu-ibu, maka ditetapkanlah sebanyak 30 ibu-ibu yang menjadi sasaran penelitian ini. Jumlah tersebut dikelompokan menjadi 3 kelompok belajar (Pokjar), yang masing-masing kelompok terdiri atas 10 warga belajar dengan 2 tutor.
4. Faktor-faktor Penyebab Tingginya Angka Buta Aksara Al-Qur’an pada Ibu-ibu Rumah Tangga di Kelurahan Sumur Pecung.
Dari hasil wawancara dan penyebaran kuisioner yang diajukan kepada responden, maka faktor-faktor penyebab tingginya angka buta aksara Al-Qur’an adalah faktor intern (pribadi), faktor lingkungan, dan faktor ekonomi. Dari ketiga faktor penyebab tersebut, faktor pribadi merupakan faktor tertinggi. Faktor tersebut antara lain adalah kurangnya minat dan motivasi untuk belajar Al-Qur’an sehingga tidak pernah belajar Al-Qur’an dengan tuntas (Data terlampir).
5. Penerapan Metode IQRO dalam Pemberantasan Buta Aksara Al-Qur’an pada Ibu-ibu Rumah Tangga di Kelurahan Sumur Pecung Kota Serang
Setelah ditentukan sasaran pemberantasan buta aksara Al-Qur’an yang disebut warga belajar sebanyak 30 ibu-ibu dan diketahuinya faktor penyebab tingginya buta aksara Al-Qur’an tersebut, maka selanjutnya dilaksanakan penerapan metode Iqro. Langkah-langkahnya adalah:
a. Menyiapkan kurikulum dan modul-modul yang akan digunakan. Dalam hal ini menggunakan kurikulum dan modul yang sudah ada yaitu buku teks IQRO dari jilid I – VI, masing-masing warga belajar mendapat satu paket.
b. Menetapkan tempat belajar. Dalam hal ini ditetapkan tempat belajar di musola dan masjid yang ada di sekitar lokasi penelitian, yaitu masjid At-Taqwa (Ciwaktu Kidul), masjid Baitur Rohman (Bungur Indah), dan Musola Nurul Amal (Waru Jaya).
c. Menyiapkan media belajar, yaitu alat yang dapat digunakan untuk memperlancar tujuan pembelajaran baik media yang ada di sekitar lingkungan belajar, seperti whiteboard maupun yang sengaja dibuat.
d. Menetapkan kelompok belajar. Dari jumlah warga belajar sebanyak 30 ibu-ibu tersebut, maka dibentuk menjadi 3 kelompok. Jadi setiap kelompok terdiri atas 10 warga belajar yang ditempatkan di masing-masing tempat belajar yang sudah ditetapkan dengan dipandu oleh 2 tutor. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 6. Kelompok Belajar Pemberantasan Buta Aksara Al-Qur’an
|
No. |
Kelompok |
Tempat |
Jumlah Warga belajar |
Jumlah Tutor |
Ket. |
|
1. |
I |
Masjid At-Taqwa (Ciwaktu Kidul) |
10 |
2 |
|
|
2. |
II |
Masjid Baitur Rahim (Bungur Indah) |
10 |
2 |
|
|
3. |
III |
Musola Nurul Amal (Waru Jaya) |
10 |
2 |
|
Adapun daftar nama-nama warga belajar dan tutor terlampir.
e. Selanjutnya membuat jadwal dan kontrak belajar, melalui kesepakatan antara tutor dan warga belajar. Disepakati bahwa waktu belajar 2 kali dalam satu minggu selama 3 bulan. Setiap pertemuan kurang lebih 90 menit atau 1,5 jam, dengan rincian sebagai berikut: 1 jam pertama untuk membaca IQRO dan sisanya 30 menit untuk belajar menulis. Kegiatan ini dimulai dari bulan Mei sampai bulan Juli,
Dengan berbagai macam kendala yang terjadi di lapangan, setelah dirata-ratakan jumlah kehadiran masing-masing warga belajar adalah 15 kali pertemuan. Dengan demikian waktu belajar efektif pada kegiatan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an ini hanya 2 bulan saja. Walau demikian, hal ini sudah sesuai dengan konsep metode IQRO itu sendiri, bahwa berdasarkan pengalaman, untuk orang dewasa agar dapat menamatkan 6 jilid IQRO dibutuhkan 10-15 kali pertemuan. Daftar kehadiran peserta terlampir.
f. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa seluruh warga belajar mengalami peningkatan kemampuan baca tulis Al-Qur’an yang luar biasa. Ini membuktikan keefektifan metode IQRO yang digunakan dalam pemberantasan buta aksara Al-Qur’an. Karena hanya dengan waktu 3 bulan dengan masa efektif belajar 15 kali pertemuan saja, hampir 100% yaitu 97% sudah lancar membaca Al-Qur’an. Hanya 3% atau 1 orang saja yang belum lancar. Oleh karena itu program pemberantasan buta aksara Al-Qur’an harus terus digulirkan oleh pemerintah bekerjasama dengan masyarakat luas, sehingga angka buta aksara Al-Qur’an terus menurun sesuai dengan yang kita harapkan. Data prestasi warga belajar terlampir.
BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN
1. Simpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan, diperoleh simpulan sebagai berikut:
1. Masih tingginya jumlah angka buta aksara Al-Qur’an pada ibu-ibu rumah tangga.
2. Faktor penyebab dari tingginya jumlah angka buta aksara pada ibu-ibu rumah tangga tersebut adalah lebih kepada faktor intern atau pribadi saja yaitu kurangnya minat dan motivasi untuk terus belajar Al-Qur’an.
3. Metode IQRO merupakan metode yang dianggap efektif digunakan dalam rangka memberantas buta aksara Al-Qur’an pada ibu-ibu rumah tangga.
2. Saran
1. Disarankan kepada pemerintah yang telah menggulirkan program pemberantasan buta aksara baik di pusat maupun di daerah, agar jangan hanya terfokus pada pemberantasan buta aksara latin saja, karena pada kenyataannya masih tingginya jumlah angka buta aksara Al-Qur’an pada masyarakat kita yang mayoritas muslim. Hal ini perlu karena Al-Qur’an adalah kitab pedoman hidup umat Islam.
2. Perguruan Tinggi diharapkan dapat melakukan pengabdian masyarakat melalui penyuluhan tentang pentingnya bisa baca-tulis Al-Qur’an untuk bekal menjadi muslim kaffah.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Agama RI, (2002) Mushaf Al-Qur’an Terjemah, Jakarta: Pena Pundi Aksara
Fadlullah, (2008) Orientasi Baru Pendidikan Islam, Jakarta: Diadit Media
Humam, As’ad, (2000) Buku Iqro; Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur’an, edisi revisi, Yogyakarta: Balai Litbang LPTQ Nasional
Laporan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan tentang Rencana Aksi Nasional (RAN) Pemberantasan Buta Aksara Perempuan (PBAP) tahun 2006, Jakarta
Laporan PAP Bidang Pendidikan tentang Program Penuntasan Buta Aksara Latin dan Al-Qur’an dengan menggunakan metode Iqro tahun 2007 di Depok
Peraturan Pemerintah RI No. 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan
Radar Banten; Rubrik Utama, Program Buta Aksara Simpang Siur, edisi Senin 7 April 2008
Statistik Gender Bidang Pendidikan tahun 200-2004, BPS Pusat, Jakarta
Tim Penyusun, (1989) Kamus Besar Bahasa Indonesia, Depdikbud Jakarta: Balai Pustaka
Undang-undang Dasar 1945
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2002
Zakarsyi. Dachlan Salim, (1990) Metode Praktis Belajar Membaca Al-Qur’an, Semarang.
Lampiran 1:
KUISIONER
Faktor-faktor Penyebab terjadinya Buta Aksara Al-Qur’an
pada Ibu-ibu Rumah Tangga
A. Identitas Responden
1. Nama : ……………………………………..
2. Tempat/Tgl. Lahir : ……………………………………..
3. Umur : ……………………………………..
4. Pendidikan : ……………………………………..
5. Pekerjaan : ……………………………………..
B. Pertanyaan-pertanyaan
1. Apakah di lingkungan ibu ada tempat untuk belajar mengaji Al-Qur’an?
a.Ya b. Tidak
2. Jika ada tempat untuk belajar mengaji Al-Qur’an, apakah jauh dari rumah ibu?
a. Ya b. Tidak
3. Apakah di lingkungan ibu ada Ustadz/Ustadzah yang mengajarkan mengaji?
a. Ya b. Tidak
4. Apakah ibu waktu kecil belajar mengaji Al-Qur’an?
a. Ya b. Tidak
5. Apakah Ibu belajar mengaji dengan orang tua sendiri?
a. Ya b. Tidak
6. Apakah ibu belajar mengaji Al-Qur’an sampai tuntas?
a. Ya b. Tidak
7. Apakah ibu belajar mengaji Al-Qur’an karena disuruh orang tua?
a. Ya b. Tidak
8. Apakah dalam belajar mengaji al-Qur’an ada kendala ekonomi?
a Ya b. Tidak
9. Apakah dalam belajar mengaji Al-Qur’an membutuhkan biaya yang banyak?
a. Ya b. Tidak
10. Apakah menurut ibu belajar mengaji Al-Qur’an itu perlu atau tidak?
a. Ya b. Tidak
Lampiran 2:
BIODATA KETUA PENELITI
a. Nama Lengkap : Nanah Sujanah, S.Ag., M. SI.
b. Jenis Kelamin : Perempuan
c. NIP. : 197011262003122001
d. Disiplin Ilmu : Pendidikan Agama Islam
e. Pangkat/Golongan : Penata Ahli/III-c
f. Jabatan fungsional : Lektor
g. Fakultas/Jurusan : Pertanian /Agribisnis
h. Pendidikan Terakhir : S2 MSI UII Yogyakarta tahun 2002,
Konsentrasi Pendidikan Islam.
i. Alamat : Waru Jaya RT. 03/15 Bungur Indah
Kelurahan Sumur Pecung Kota Serang
Banten.
j. Penelitian Terakhir : Persepsi Ibu-ibu Rumah Tangga terhadap
Tindak Kekerasan dalam Lingkup Keluarga
di Kelurahan Sumur Pecung Kota Serang
Banten, 2006
Serang, 6 Nopember 2009
Nanah Sujanah, S.Ag., M.SI
Lampiran 3 :
BIODATA ANGGOTA PENELITI
a. Nama Lengkap : Hj. Sri Mulyati, Ir., MM
b. NIP. : 196107102003122001
c. Tempat/tgl Lahir : Serang, 10 Juli 1961
d. Jenis Kelami : Perempuan
e. Agama : Islam
f. Pendidikan : Sarjana Pertanian, jurusan Gizi Masyarakat
dan Sumber Daya Keluarga, IPB tahun
1984
g. Alamat : Jl. Gurita B2 No. 15 Komp. Grya
Gemilang Sakti serang. 0254-200118.
Hp. 0818949457.
h. Penelitian : Persepsi Ibu-ibu Rumah Tangga terhadap
Tindak Kekerasan dalam Lingkup Keluarga di Kelurahan Sumur Pecung Kota Serang Banten, 2006
Serang, 6 Nopember 2009
Hj. Sri Mulyati, Ir., MM
Lampiran 4 :
Hasil Jawaban Kuisioner Responden
|
No. Res pon den |
Nomor Item |
|||||||||||||||||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
8 |
9 |
10 |
|||||||||||
|
a |
b |
a |
b |
a |
b |
a |
b |
a |
b |
a |
b |
a |
b |
a |
b |
a |
b |
a |
b |
|
|
1. |
√ |
|
|
√ |
√ |
|
√ |
|
|
√ |
√ |
|
√ |
|
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
2. |
√ |
|
|
√ |
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
3. |
√ |
|
|
√ |
√ |
|
√ |
|
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
4. |
|
√ |
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
5. |
√ |
|
√ |
|
|
√ |
√ |
|
|
√ |
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
√ |
√ |
|
|
6. |
√ |
|
|
√ |
√ |
|
√ |
|
|
√ |
√ |
|
√ |
|
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
7. |
√ |
|
√ |
|
√ |
|
|
√ |
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
8. |
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
9. |
√ |
|
|
√ |
√ |
|
√ |
|
|
√ |
√ |
|
|
√ |
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
10. |
√ |
|
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
√ |
|
√ |
√ |
|
√ |
|
|
√ |
√ |
|
|
11. |
√ |
|
|
√ |
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
|
√ |
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
12. |
√ |
|
|
√ |
√ |
|
√ |
|
√ |
|
|
√ |
√ |
|
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
13. |
√ |
|
|
√ |
√ |
|
√ |
|
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
14. |
√ |
|
|
√ |
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
|
√ |
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
15. |
√ |
|
√ |
|
|
√ |
√ |
|
√ |
|
|
√ |
√ |
|
√ |
|
|
√ |
√ |
|
|
16. |
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
17. |
√ |
|
|
√ |
√ |
|
√ |
|
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
18. |
√ |
|
|
√ |
√ |
|
|
√ |
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
19. |
√ |
|
|
√ |
√ |
|
√ |
|
√ |
|
|
√ |
√ |
|
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
20. |
√ |
|
|
√ |
√ |
|
√ |
|
|
√ |
√ |
|
√ |
|
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
21. |
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
|
√ |
√ |
|
√ |
|
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
22. |
√ |
|
|
√ |
√ |
|
√ |
|
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
23. |
√ |
|
|
√ |
√ |
|
√ |
|
|
√ |
√ |
|
√ |
|
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
24. |
√ |
|
√ |
|
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
√ |
√ |
|
|
25. |
|
√ |
√ |
|
|
√ |
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
√ |
|
26. |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
27. |
√ |
|
|
√ |
√ |
|
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
√ |
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
28. |
√ |
|
√ |
|
√ |
|
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
29. |
√ |
|
|
√ |
√ |
|
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
√ |
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
30. |
√ |
|
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
√ |
|
|
Jml |
27 |
3 |
10 |
20 |
24 |
6 |
23 |
7 |
8 |
22 |
12 |
18 |
14 |
16 |
3 |
27 |
1 |
29 |
29 |
1 |
Lampiran 5 :
|
DAFTAR PRESTASI IQRO |
|||||||||
|
NO |
NAMA |
UMUR |
KELOMPOK |
MULAI IQRO |
TERAKHIR IQRO |
KETERANGAN |
|||
|
1 |
Jamilah |
30 |
1 |
2 |
6 |
lancar |
|||
|
2 |
Nafiah |
60 |
1 |
2 |
5 |
lancar |
|||
|
3 |
Yati |
36 |
1 |
2 |
4 |
lancar |
|||
|
4 |
Khadijah |
50 |
1 |
2 |
6 |
lancar |
|||
|
5 |
Fatimah |
50 |
1 |
2 |
6 |
lancar |
|||
|
6 |
Yanah |
40 |
1 |
2 |
6 |
lancar |
|||
|
7 |
Hamdanah |
34 |
1 |
1 |
4 |
lancar |
|||
|
8 |
Sudiyati |
41 |
1 |
1 |
4 |
lancar |
|||
|
9 |
Hj.Romlah |
46 |
1 |
2 |
6 |
lancar |
|||
|
10 |
Halimah |
48 |
1 |
2 |
4 |
lancar |
|||
|
11 |
Santiya |
50 |
2 |
1 |
3 |
BL |
|||
|
12 |
Eti Suparti |
50 |
2 |
2 |
6 |
lancar |
|||
|
13 |
Sarmiyati |
55 |
2 |
2 |
5 |
lancar |
|||
|
14 |
Deuis |
42 |
2 |
2 |
6 |
lancar |
|||
|
15 |
Ipah Sarifah |
40 |
2 |
1 |
6 |
lancar |
|||
|
16 |
Devis |
25 |
2 |
1 |
6 |
lancar |
|||
|
17 |
Eti Rohaeti |
56 |
2 |
2 |
6 |
lancar |
|||
|
18 |
Anna |
46 |
2 |
2 |
6 |
lancar |
|||
|
19 |
Lia Suliawati |
48 |
2 |
1 |
5 |
lancar |
|||
|
20 |
A.Yati |
47 |
2 |
2 |
6 |
lancar |
|||
|
21 |
Hartati |
61 |
3 |
1 |
6 |
lancar |
|||
|
22 |
H.Masitoh |
49 |
3 |
2 |
5 |
lancar |
|||
|
23 |
Entin Partiwi |
62 |
3 |
1 |
6 |
lancar |
|||
|
24 |
Rahmawati |
27 |
3 |
1 |
6 |
lancar |
|||
|
25 |
Mindahyati |
37 |
3 |
2 |
6 |
lancar |
|||
|
26 |
Nur Amalia |
25 |
3 |
2 |
6 |
lancar |
|||
|
27 |
Salfiah |
59 |
3 |
2 |
6 |
lancar |
|||
|
28 |
liah |
30 |
3 |
1 |
5 |
lancar |
|||
|
29 |
Siti Saokah |
39 |
3 |
2 |
6 |
lancar |
|||
|
30 |
Badriah |
59 |
3 |
2 |
5 |
lancar |
|||
Lampiran 6 :
LEMBAR PENJAJAGAN IQRO
-
-
-
-
-
-
-
Lampiran 7 :
DAFTAR HADIR