BAB I

PENDAHULUAN

 

1.  Latar Belakang

            Pada alinea keempat Undang-undang Dasar 1945 disebutkan bahwa pemerintah Negara Republik Indonesai berkewajiban untuk  ”mencerdaskan kehidupan bangsa”, dan diperjelas lagi dalam pasal 31 ayat 1 dinyatakan ”bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.” Pendidikan adalah merupakan alat yang paling penting untuk mengembangkan potensi kehidupan manusia, baik intelegensia, kreativitas, maupun akhlak al-karimah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan.  Aktivitas pendidikan terkait dengan tujuan pembentukan manusia seutuhnya dalam rangka  memajukan peradaban. Sebagaimana tertuang dalam  undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20  tahun 2003, Bab II, pasal 3 dirumuskan bahwa:

            ”Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan  kemampuan dan membentuk watak  serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam  rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya  potensi peserta  didik agar  menjadi manusia yang beriman  dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia; sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang  demokratis serta bertanggung jawab.”

     

            Jelaslah disini bahwa  pemerintah dan masyarakat harus bahu membahu dalam melaksanakan pendidikan, yang diawali  dengan pemberantasan  buta aksara. Karena walaupun pemerintah sudah menetapkan program wajib belajar 9 tahun dan program pemberantasan buta aksara seperti Program Keaksaraan Fungsional (Program KF), namun demikian program-program tersebut belum berhasil menurunkan  besarnya buta aksara sehingga sampai saat ini buta aksara tetap saja masih tinggi. Padahal tekad pemerintah pada tahun 2005 lalu mencanangkan  Program Percepatan  Pemberantasan Buta Aksara yang ditargetkan tuntas pada tahun 2009.

            Berdasarkan data BPS tahun 2003-2004, posisi kebutaaksaraan penduduk Indonesia  usia 10 tahun ke atas sebesar 15.533.271 orang, terdiri atas perempuan sebanyak 10.643.823 orang  (67%) dan laki-laki sebanyak 5.042.338 orang (32,1 %). Pada usia 10-44 tahun sebesar 4.410.627 orang. Usia 15-44 tahun sebesar 3.986.187 orang. Angka buta aksara tersebut  masih akan bertambah, mengingat angka tingkat putus belajar pada kelas-kelas awal (1-3) SD/MI saat ini masih 200.000 s.d. 300.000 per tahun. Khusus di bidang pendidikan, data susenas 2003 menunjukan bahwa  penduduk perempuan  usia 20 tahun ke atas  yang tidak/belum  pernah sekolah jumlahnya dua kali lipat penduduk laki-laki 911,56% berbanding 5,43%).  Penduduk perempuan yang buta aksara sebesar 12,285, sedangkan laki-laki 5,82% atau dengan kata lain bahwa jumlah buta aksara pada perempuan lebih banyak 2 samapai 3 kali lipat dari laki-laki.

            Sementara itu kebutaaksaraan juga sangat terkait dengan kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, dan ketidakberdayaan masyarakat. Sehingga permasalahan buta aksara ini tidak saja menjadi  permasalahan nasional tetapi sudah diangkat  menjadi permasalahan internasional. Atas dasar itu, UNESCO, UNICEF, WHO, World Bank, dan badan-badan internasional lain menjadi sangat gencar mengkampanyekan dan mensosialisasikan akan pentingnya pemberantasan buta aksara di seluruh dunia termasuk Indonesia.

            Dikarenakan Indonesia adalah negara yang beragama, maka untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut, pemerintah wajib menyelenggarakan pendidikan agama sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah  Republik Indonesia Nomor 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan pada Bab II pasal 3 ayat 1 dikatakan bahwa:

            Setiap satuan pendidikan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan wajib menyelenggarakan pendidikan agama.”

 

Kemudian pada pasal 2  ayat 1 dan 2  dikatakan bahwa:

            “Pendidikan agama berfungsi membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlakul mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antar umat beragama.”

            “Pendidikan agama bertujuan untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.”

 

            Dalam pandangan Islam, pendidikan wajib dilaksanakan sepanjang hayat, sehingga kehidupan bagi seorang muslim adalah proses dan sekaligus lingkungan pembelajaran. Jika seseorang berhenti  belajar pasti  tertinggal dan tergilas  zaman. Selanjutnya, apabila  kita memperhatikan  ayat-ayat yang pertama diturunkan  oleh Allah kepada Nabi Muhammad, maka nyatalah bahwa Allah telah menekankan perlunya orang belajar baca-tulis  dan belajar ilmu pengetahuan. Firman Allah dalam surat Al-‘Alaq ayat 1-5 :

وَرَبُّكَ اقرَأ (٢) عَلَقٍ مِن لإِنسٰنَ ا خَلَقَ (١)خَلَقَ الَّذى رَبِّكَ بِاسمِ اقرَأ

            (٥)يَعلَم  لَم ما الإِنسٰنَ عَلَّمَ بِالقَلَمِ عَلَّمَ الَّذى (٣)الأَكرَمُ

             

              “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan  manusia dari segumpal darah. Bacalah Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui.”

 

Dalam hadis Rasulullah saw. Dikatakan:

              “Sebaik-baik kalian adalah siapa yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya (HR. Al-Bukhari).

              “Siapa saja membaca satu huruf  dari kitab Allah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya (HR. At-Tirmidzi).

 

            Dari ayat-ayat dan hadis tersebut, jelaslah bahwa agama Islam mendorong umatnya agar menjadi umat yang pandai, dimulai dengan belajar baca tulis dan dilanjutkan  dengan belajar berbagai macam ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, dalam hal ini pemerintah tidak cukup hanya memberantas  buta aksara latin saja,  tetapi tidak kalah penting juga mmeberantas buta aksara Al-Qur’an  sebagai pedoman umat muslim yang di dalamnya terdiri  dari berbagai macam ilmu pengetahuan. Mengapa demikian? Dikarenakan fenomena yang terjadi  pada masyarakat Indonesia, salah satu contoh di kota Depok, pada tahun 2006 tercatat angka  buta  aksara latin mencapai angka 13.000 jiwa, dan buta aksara Al-Qur’an lebih banyak yaitu mencapai angka 20.000 jiwa. Hal ini tidak menutup kemungkinan  terjadi juga di daerah-daerah lainnya termasuk di propinsi Banten.

            Propinsi Banten yang jumlah penduduknya lebih dari 8 juta jiwa dan  lebih dari 95% dari jumlah tersebut  mayoritas beragama Islam, memiliki sumber daya manusia yang potensial untuk dikembangkan terutama kaum perempuannya. Akan  tetapi berdasarkan laporan kepala Dindik Propinsi Banten, Eko Endang Koswara kepada anggota komisi X DPR RI, Didik J Rachbini  pada rapat tertutup  di hotel Le Dian, Rabu 30 April 2008 menyebutkan, bahwa data penyandang buta aksara  di Propinsi Banten mencapai angka 226.762, dan berada di urutan 10 besar penyandang    buta aksara nasional. Karena dari sekitar  11 juta penduduk Indonesia  penyandang buta aksara  pada tahun 2006-2007, terdapat sekitar 3,3 % berada di Banten. Sementara data lain menyebutkan, jumlah penyandang buta aksara  usia 15 tahun  ke atas di Propinsi Banten pada tahun 2006 itu mencapai 305.677 orang, terdiri atas 96.668 laki-laki dan 208.502 perempuan. Pada tahun 2008 lalu masih berkisar 300.041 orang.

            Jadi jelas, bahwa jumlah buta aksara perempuan ternyata lebih banyak dari laki-laki.  Adapun mengenai jumlah aksara Al-Qur’an  belum ada angka yang pasti. Akan tetapi berdasarkan  pengamatan langsung penulis  pada ibu-ibu rumah tangga  di Banten, khususnya di kelurahan Sumur Pecung kecamatan  Serang Kota Serang masih banyak yang mengalami  buta aksara Al-Qur’an. Contoh dari tiga majelis  ta’lim  di lingkungan kelurahan Sumur Pecung  yang penulis observasi, yang masing-masing majelis  berjumlah kurang lebih 30 orang, sebanyak 80% dari jumlah  tersebut adalah buta aksara Al-Qur’an. Lebih jelasnya dari  30 ibu-ibu rumah tangga, 24  diantaranya buta huruf Al-Qur’an. Padahal posisi perempuan  sebagai ibu  di lingkungan rumah tangga  dilihat dari segi tanggung jawab pemeliharaan  dan pendidikan anak  merupakan pusat pendidikan yang menentukan masa depan bangsa.

             Masalah ini memerlukan pemikiran yang mendalam guna dapat dicarikan jalan pemecahannya. Faktor-faktor apa saja yang meyebabkan terjadinya buta aksara Al-Qur’an pada ibu-ibu rumah tangga dan metode apa yang tepat untuk diterapkan dalam rangka menurunkan angka buta aksara Al-Qur’an tersebut. Oleh karena itu penulis merasa perlu untuk mengangkatnya ke dalam penelitian dengan judul  “EFEKTIFITAS METODE IQRO DALAM PEMBERANTASAN BUTA AKSARA AL-QUR’AN PADA IBU-IBU RUMAH TANGGA (Penelitian di Kelurahan Sumur Pecung Kecamatan Serang Kota Serang Banten)

 

 

2. Identifikasi Masalah

            Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dalam penelitian ini dapat diidentifikasi beberapa permasalahan:

 

  1. Berapa banyak  jumlah buta aksara Al-Qur’an pada ibu-ibu rumah tangga di kelurahan Sumur Pecung kecamatan Serang kota Serang Banten?

  2. Faktor-faktor  apa saja penyebab tingginya angka buta aksara Al-Qur’an pada ibu-ibu rumah tangga di kelurahan Sumur Pecung kecamatan Serang kota Serang Banten.

  3. Efektifkah metode IQRO digunakan dalam memberantas  buta aksara Al-Qur’an  pada ibu-ibu rumah tangga di kelurahan Sumur Pecung kecamatan Serang kota Serang Banten.

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

            Al-Qur’an adalah  kalamullah (firman Allah). Keutamaannya atas segala perkataan seperti keutamaan Allah ‘Azza Wa Jalla atas seluruh makhluknya. Membacanya adalah amalan  yang paling utama  dilakukan oleh lisan dan bernilai ibadah.

            Mengenai keutamaan membaca, mempelajari, dan mengajarkan Al-Qur’an  ini telah diungkapkan oleh Rasulullah saw. Dalam hadis-hadis berikut:

1.      Pahala membacanya:

“Siapa saja membaca  satu huruf dari kitab Allah (Al-Qur’an) , maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.” (HR. At-Tirmidzi).

2.      Keutamaan mempelajari Al-Qur’an , menghafalnya dan pandai membacanya:

“Perumpamaan orang yang membaca  Al-Qur’an  sedang ia hafal, dengannya  bersama para malaikat yang suci dan mulia, sedang perumpamaan orang yang  membaca Al-qur’an  sedang ia senantiasa melakukannya  meskipun  hal itu sulit baginya, maka baginya dua pahala.” (HR. Muttafaq ‘Alaih).

 

3.      Pahala mengajarkannya:

“Sebaik-baik kalian adalah siapa yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari).

 

 

4.      Al-Qur’an member syafaat kepada ahlinya  di akhirat:

“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat kepada para ahlinya.” (HR. Muslim).

            Jadi jelas, bahwa agama Islam mendorong umatnya agar menjadi umat yang pandai, dimulai dengan belajar baca tulis dan dilanjutkan dengan belajar berbagai macam ilmu pengetahuan. Kewajiban menuntut ilmu ini  berlaku untuk semua baik laki-laki maupun perempuan. Adapun lingkungan yang pertama dan utama dalam pendidikan adalah lingkungan keluarga, dimana ibu adalah orang pertama yang memberikan sentuhan kasih sayang  sedemikian rupa, mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui dan memeliharanya dengan intensitas yang lebih sering dan kualitas interaksi yang bersifat edukatif.  Atas dasar pertimbangan  ini sangat tepat jika ibu disebut sebagai madrasah utama, sebagaimana diungkapkan Hafezd Ibrahim dalam sya’irnya yang dikutip oleh Fadlullah (2008; hal. 146) berikut ini:

            “Ibu adalah madrasah, apabila dipersiapkan  dapat membentuk bangsa yang baik lagi kuat.”  

            Dengan demikian, posisi ibu jika dilihat dari segi tanggung jawab pemeliharaan dan pendidikan anak merupakan pusat pendidikan yang menentukan masa depan bangsa.  Menurut Ali Syari’ati, konsep ibu dilambangkan dalam kata “Umm” seakar kata dengan “Imam” yang menggambarkan konsep kepemimpinan, dan kata “Ummah” yang menggambarkan kesatuan  social manusia atau bangsa. Melalui pendekatan  kebahasaan ini  dapat ditarik pemahaman  bahwa peranan ibu sebagai  madrasah utama sangat strategis  dalam membina dan menyiapkan  komunitas baru  (ummah) yang baik lagi kuat, serta meretas kader kepemimpinan (Imam) masa depan  yang memiliki integritas  watak  dan pribadi  yang bermoral, ketajaman intelektual dan kreativitas  yang tinggi,  serta memiliki jiwa leadership yang mantap dan penuh  percaya diri (Fadlullah, 2008)

            Untuk melakukan tugas yang mulia ini, seorang ibu dituntut untuk menjadikan dirinya seorang pendidik  yang handal dan bertanggung jawab, serta mempunyai ilmu yang memadai. Sehingga tugas yang mulia ini  tidaklah dapat diberikan kepada  sembarang wanita.  Sementara fenomena yang terjadi pada ibu-ibu rumah tangga  khususnya di Banten, masih tingginya angka buta aksara  baik latin maupun aksara Al-Qur’an. Pada tahun 2008 yang lalu saja masih berkisar 300.041 orang.

            Program pemberantasan buta aksara (PBA) ini merupakan program nasional yang dicanangkan sejak tahun 2003. Kemudian tahun 2005, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan program percepatan pemberantasan buta aksara yang ditargetkan  tuntas pada tahun 2009 ini. Seluruh daerah termasuk propinsi Banten, turut mencanangkan program tersebut dengan menyusun  sasaran dan tentu saja anggaran.

            Untuk mengatasi permasalahan  buta aksara ini, pemerintah pusat telah mengeluarkan beberapa landasan hukum  sekaligus sebagai dasar kebijakan dalam memberantas buta aksara, yaitu:

1.      Instruksi Presiden No. 5 tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajar Dikdas 9 tahun dan Pemberantasan Buta aksara.

2.      Keputusan bersama Mendiknas, Mendagri, dan Meneg PP tentang Percepatan Pemberantasan Buta Aksara Perempuan.

3.      Kerjasama Mendiknas dengan berbagai organisasi sosial kemasyarakatan di antaranya: PKK Pusat, Muslimat NU, Aisyiyah, Kowani, dan Wanita Islam.

4.      Keputusan MENKOKESRA No. 22 tahun 2006 tentang Tim Koordinasi Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajar Dikdas dan Pemberantasan Buta Aksara.

5.      Keputusan Mendiknas No. 35 th 2006 tentang Pembentukan Tim Pelaksana Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan wajar Dikdas dan pemberantasan Buta Aksara dan pembentukan sekretariatnya.

6.      Keputusan Dirjen PLS No. Kep-82/E/MS/2007 tentang Pembentukan Kelompok Kerja GNP-PBA.

 

            Program pemberantasan buta aksara selama ini sering berjalan pasang surut. Hal ini disebabkan karena berbagai hal diantaranya:

1.      Kesadaran akan pentingnya tingkat keaksaraan penduduk belum menjadi kesadaran kolektif.

2.      Rendahnya tingkat perekonomian keluarga.

3.      Sosial budaya yang masih bias gender (budaya patriarchi).

4.      Rendahnya political will dari penyelenggara Negara (pemerintah dan DPR).

5.      Rendahnya anggaran yang disediakan untuk program pendidikan keaksaraan, jika dibandingkan dengan program-program dalam satu faktor (faktor pendidikan) maupun luar faktor yang sangat terkait dengan program ini seperti faktor kesehatan, keluarga berencana, ketenagakerjaan, dan lain-lain.   

 

            Permasalahan selanjutnya adalah bagaimana program pemberantasan buta aksara Al-Qur’an dilaksanakan dan metode apa yang akan diterapkan dan yang mudah diserap oleh ibu-ibu rumah tangga.  Menurut hemat penulis, karena selama ini program buta aksara  yang digulirkan pemerintah masih terbatas pada buta aksara  latin dan masih langkanya program buta aksara Al-Qur’an, maka data tentang jumlah pasti  buta aksara  Al-Qur’an pun sulit untuk diketahui.  Begitu pula mengenai metode yang tepat diterapkan.

            Dalam hal ini penulis berpatokan pada metode yang ada dan sudah pernah digunakan di masyarakat. Dari berbagai macam metode yang ada tersebut, dengan keterbatasan biaya, tenaga, dan waktu, maka dalam penelitian ini  akan  diterapkan  satu metode saja yang sudah dikenal di masyarakat dan yang paling banyak digunakan serta mudah didapat, karena tersedia di took-toko buku. Metode tersebut adalah metode “IQRO”.  Hal ini berdasarkan pada pengalaman di kota Depok pada tahun 2008, sebagaimana laporan BAP Bidang Pendidikan   dalam program penuntasan  buta aksara latin dan al-Qur’an yang telah sukses melaksanakan program penuntasan  buta aksara tersebut  dengan menggunakan metode iqro, terbukti lebih efektif  dan lebih cepat  dicerna oleh otak. Di kota Depok pada tahun 2006  tercatat  angka buta aksara Al-Qur’an   sebanyak  20.000 jiwa.  Ternyata dengan menggunakan metode iqro, pada tahun 2007 selama 4 bulan   masa belajar dengan jumlah pertemuan minimal 3 kali setiap minggu @ 90 menit, sebanyak  3.250 orang warga belajar  yang dapat “melek aksara”.

            Metode iqro itu sendiri adalah metode cepat  belajar membaca Al-Qur’an  yang terdiri atas enam jilid, disusun secara praktis  dan sistematis oleh KH. As’ad Humam, Balai Litbang LPTQ Nasional, Team Tadarus “AMM” Yogyakarta tahun 1980-an. Sehingga memudahkan bagi setiap orang yang belajar dan mengajarkan membaca Al-Qur’an dalam waktu yang actori singkat.

            Ada beberapa sifat metode iqro, yaitu:

1.  Bacaan langsung tanpa dieja.

1.      CBSA (cara belajar santri aktif), guru hanya penyimak saja, jangan sampai menuntun, hanya cukup  memberikan contoh pokok saja.

2.      Privat/klasikal, penyimakan secara  seorang demi seorang. Atau bila klasikal, santri dikelompokan berdasarkan persamaan kemampuan. Guru menerangkan  pokok-pokok pelajaran  secara klasikal dengan menggunakan  peraga, dan secara acak santri dimohon membaca bahan latihan.

3.      Asistensi, santri yang lebih tinggi jilidnya, dapat membantu menyimak  santri lain.

4.      Praktis, sistematis, variatif, komunikatif, dan fleksibel.

5.      Buku Iqro dijual bebas di took-toko, dengan harga yang actori  terjangkau sekitar Rp 5.000 sampai Rp 10.000.

BAB III

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

 

1. Tujuan Penelitian.

           Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

1.     Mengetahui dan mengidentifikasi jumlah buta aksara Al-Qur’an pada ibu-ibu rumah tangga di kelurahan Sumur Pecung kecamatan Serang kota Serang Banten.

2.     Mengetahui faktor-faktor penyebab tingginya angka buta aksara Al-Qur’an pada ibu-ibu rumah tangga di kelurahan Sumur Pecung kecamatan Serang kota Serang Banten.

3.     Mengetahui efektifitas metode IQRO  dalam memberantas  buta aksara Al-Qur’an  pada ibu-ibu rumah tangga di kelurahan Sumur Pecung kecamatan Serang kota Serang Banten.

 

2. Manfaat Penelitian

            Manfaat penelitian ini adalah:

1.     Berkurangnya jumlah buta aksara Al-Qur’an dan meningkatnya jumlah melek aksara Al-Qur’an pada ibu-ibu rumah tangga.

2.     Memberikan informasi kepada pemerintah daerah  dalam menentukan arah kebijakan  dalam pemberantasan buta aksara Al-Qur’an.

 

 

 

BAB IV

METODE PENELITIAN

 

1. Metode

            Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis, dengan lokasi penelitian ditetapkan secara sengaja (purposiv) yaitu dipilih kelurahan Sumur Pecung kecamatan Serang kota Serang Banten. Alasan pengambilan lokasi tersebut adalah karena kelurahan Sumur Pecung berada di pusat kota dan karakteristik masyarakatnya relatif homogen. Selanjutnya berdasarkan hasil observasi peneliti di beberapa tempat ditemukan  masih banyaknya ibu-ibu rumah tangga yang buta aksara khususnya aksara Al-Qur’an.

2. Pendekatan yang dilakukan

            Pemberantasan buta aksara Al-Qur’an ini dilaksanakan dengan menggunakan metode IQRO. Hal ini dilakukan karena metode pembelajaran Al-Qur’an dengan menggunakan metode IQRO yang selama ini dilaksanakan ternyata lebih cepat dicerna oleh otak, sehingga memungkinkan untuk lebih efektif dan efisien dalam mencapai tujuan.

            Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan langsung, yaitu langsung dibaca tanpa dieja, langsung berhadapan atau tatap muka:

♦ Pembelajaran aktif

♦ Sistematis

♦ Tematis

♦ Fleksibel

♦ Asistensi

♦ Bimbingan kerohanian

♦ Bimbingan keterampilan

3. Penetapan Kelompok Sasaran dan Lokasi Kegiatan

a. Kelompok sasaran pemberantasan buta aksara Al-Qur’an

1)   Untuk kegiatan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an ini dilakukan proses pembelajaran terhadap ibu-ibu rumah tangga – yang selanjutnya disebut warga belajar – dengan membentuk kelompok-kelompok belajar yang masing-masing kelompok tersebut akan dipandu oleh satu tutor keaksaraan. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposiv sampling, dimana ibu-ibu yang menjadi responden dalam penelitian ini  adalah ibu-ibu rumah tangga berdasarkan karakteristik tertentu, yaitu dilihat dari latar belakang pendidikannya.

Ada 4 kategori yang akan dijadikan sampel penelitian, yaitu:

a)      Ibu-ibu rumah tangga tamat SD, berjumlah 1100 orang.

b)      Ibu-ibu rumah tangga tamat SLTP, berjumlah 270 orang.

c)      Ibu-ibu rumah tangga tamat SLTA, berjumlah 570 orang .

      Karena jumlah populasi lebih dari 100 yaitu 1.940, maka diambil sampel sebanyak 10% dari jumlah populasi tersebut yaitu 194  orang. Dari jumlah tersebut, kemudian diadakan tes kemampuan baca tulis Al-Qur’an dalam rangka identifikasi warga belajar dan kelompok belajar. Sasaran dari penelitian ini adalah ibu-ibu yang betul-betul tidak mampu  membaca Al-Qur’an. Sehingga  ditetapkanlah 30 orang warga belajar dengan 3 kelompok belajar (pokjar), masing-masing pokjar 10 orang dengan 2 tutor.

      Data yang dikumpulkan pada penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dan observasi langsung. Sedang data sekunder diperoleh dari dokumen resmi dari instansi terkait.

      Setelah semua data terkumpul, dianalisis dengan menggunakan dua pendekatan yaitu logika dan statistika.  Pendekatan logika digunakan untuk data  yang bersifat kualitatif yang diperoleh dari  hasil wawancara dan observasi langsung.  Sedang pendekatan statistika digunakan  untuk data yang bersifat kuantitatif , yang diperoleh dari hasil tes.

2)   Pendukung kegiatan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an ini adalah :

a)      Unsur Kelurahan.

b)      Tim penggerak PKK.

c)      Para tokoh masyarakat.

d)     Majelis Ta’lim.

e)      Organisasi kemasyarakatan lainnya.

b.   Kelompok sasaran pelatihan Tutor Keaksaraan.

 1) Secara umum sasaran pelatihan tutor adalah yang mempunyai potensi dan kecakapan hidup yang dimiliki, latar belakang pendidikan, domisili dan berpengalaman dalam pendidikan orang dewasa.

2)   Jumlah tutor yang dilatih sebanyak pokjar yang akan dibentuk.

c.   Tempat kegiatan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an.

      Tempat kegiatan akan dilaksanakan di masjid/musholla, majlis ta’lim, bahkan bila perlu dapat dilaksanakan di sekolah/madrasah dengan melibatkan guru di sekolah/madrasah tersebut.

d.   Tempat kegiatan pelatihan tutor keaksaraan.

            Tempat pelatihan direncanakan di aula kelurahan Sumur Pecung atau tempat lain yang representatif. Pelatihan ini dilaksanakan sebelum pelaksanaan proses pembelajaran.

4. Uraian Teknis Kegiatan

a. Identifikasi

1)   Pemetaan warga belajar dan kelompok belajar untuk mengetahui karakteristik tentang kebutuhan, minat, dan kemampuannya.

2)   Pemetaan calon tutor untuk mengetahui karakteristik tutor tentang potensi dan kecakapan hidup yang dikuasai, dengan kriteria sebagai berikut:

      ► Pendidikan minimal SLTA.

      ► Berpengalaman sebagai tenaga pendidik orang dewasa.

      ► Berdomisili di sekitar lokasi kegiatan.

      ► Dapat berkomunikasi secara lisan dan tulisan dengan jelas dan

           benar.

      Mampu baca tulis Al-Qur’an dengan baik sesuai kaidah tajwid.

3)   Pengelola dilaksanakan oleh kelurahan, RT/RW, PKK, DKM, Majlis Ta’lim, LSM atau organisasi kemasyarakatan lainnya.

b.   Persiapan

1)   Penyiapan kurikulum keaksaraan dan modul-modul paket keaksaraan dengan bersumber pada buku teks, majalah, koran, selebaran, poster, dan atau bahan ajar yang diciptakan sendiri oleh warga belajar bersama dengan tutor.

2)   Penetapan jadwal dan kontrak belajar. Jadwal kegiatan belajar disusun berdasarkan kesepakatan antara warga belajar dan tutor. Jumlah pertemuan tutorial atau jumlah jam belajar minimal 2 kali setiap minggu @ 90 menit, selama 3 bulan. Kontrak belajar ini dilakukan untuk menjamin keberlangsungan kegiatan belajar sampai selesai program.

3)      Penyiapan media belajar, dengan menggunakan media yang ada di sekitar lingkungan belajar.

4)      Penyiapan instrumen penilaian keaksaraan.

  1. Penyelenggaraan proses belajar mengajar.

Pelaksanaan proses belajar mengajar  dari masing-masing pokjar berjumlah 10 orang warga belajar dengan 2 tutor. Dimulai dari bulan Mei    dan berakhir bulan Juli 2009.  Selanjutnya akan dilakukan tes dan akan diberikan “SUKMA” (Surat Melek Aksara).

  1. Evaluasi hasil belajar

Evaluasi dilaksanakan secara bersama-sama antara warga belajar dan tutor dengan menekankan kepada evaluasi diri sendiri (self evaluation) dan evaluasi kemajuan belajarnya.

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

1. Gambaran Umum Daerah Penelitian

 

            Lokasi penelitian terletak di kelurahan Sumur Pecung, kecamatan Serang, kota Serang, Banten. Kelurahan Sumur Pecung terdiri atas 23 Rukun Warga (RW) yaitu: Sumur Pecung, Muncung, Kidang, Cipete, Ciwaktu Kidul, Ciwaktu Lor, Karang Tumaritis, Ciceri Jaya, Sumber Agung, Ciloang, KPN, Ciceri Indah, P&K, GGS, Ciceri Permai, Bungur Indah, Komplek DPRD, Permata, Penancangan, Sumur Pecung Jaya, Sumur Pecung Pemda, Pakojan.

            Batas wilayah kelurahan Sumur Pecung adalah sebelah utara berbatasan dengan kelurahan Kaligandu; sebelah selatan berbatasan dengan kelurahan Cipocok Jaya; sebelah barat berbatasan dengan kelurahan Cipare dan Cimuncang; sebelah Timur berbatasan dengan  kelurahan  Banjar Agung dan Penancangan.

            Jarak kelurahan Sumur Pecung ke kecamatan adalah tiga kilometer, begitu pun  jarak ke ibu kota juga tiga kilometer.

            Luas wilayah  kelurahan Sumur Pecung adalah 132,52 hektar. Penggunaan lahan di kelurahan Sumur Pecung dapat dilihat dalam table 1 di bawah ini:

 

 

 

 

 

 

Tabel 1. Jenis Penggunaan Lahan di Kelurahan Sumur Pecung

 

No.

Penggunaan Lahan

Luas (Ha)

Persentase (%)

1.

Pemukiman

71,5

58,6

2.

Bangunan (Sekolah, Pertokoan, dll)

5

4,1

3.

Pekuburan

1

0,8

4.

Tempat Peribadatan

0,5

0,4

5.

Pertanian sawah

32

26,2

6.

Perkebunan

2

1,6

7.

Fasum

3

2,5

8.

Jalan

5

4,1

9.

Lain-lain

2

1,6

 

Jumlah

122

100

Sumber: Profil: Kelurahan Sumur Pecung, 2002

 

            Dari luas lahan yang digunakan di kelurahan Sumur Pecung, 50% untuk pemukiman, sedangkan 26,2% untuk pertanian sawah. Kelurahan Sumur Pecung  actor 50%  berada di tengah kota, sehingga penggunaan lahan  untuk sawah sudah berkurang. Oleh karenanya, mata pencaharian  penduduk juga lebih banyak sebagai pegawai dan karyawan pabrik.

            Jumlah penduduk  kelurahan Sumur Pecung  sebanyak 19.812 jiwa.  Jumlah penduduk laki-laki sebanyak 9.707 jiwa, sedangkan jumlah penduduk perempuan sebanyak 10.105 jiwa. Dari jumlah penduduk perempuan tersebut, ada sekitar 3.991 jiwa yang sudah berkeluarga. Jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan ini dapat dilihat pada table 2 di bawah ini:

 

 

Tabel 2. Penduduk Menurut  Tingkat Pendidikan

No.

Tingkat Pendidikan

Jumlah (Jiwa)

Persentase (%)

1.

SD

1100

50

2.

SLTP

270

12

3.

SLTA

570

26

4.

Sarjana

260

 12

 

Jumlah

2.200

100

 

            Adapun mengenai jumlah penduduk berdasarkan mata pencahariannya dapat dilihat pada tabel  3 di bawah ini:

 

Tabel 3. Penduduk menurut Mata Pencahariannya

No.

Mata Pencaharian

Jumlah (jiwa)

Persentase (%)

1.

PNS

1031

17,5

2.

Karyawan BUMN/Swasta

1928

32,6

3.

Petani

277

4,7

4.

Wiraswasta

348

5,9

5.

Pertukangan

140

2,4

6.

Buruh

1335

22,6

7.

Pensiunan

830

14,1

8.

Pemulung

10

0,2

 

Jumlah

5899

100

           

            Dari jumlah penduduk menurut mata pencaharian seperti yang terlihat pada table 3 tersebut, sebanyak 32,6% adalah karyawan baik swasta maupun BUMN. Kemudian 22,6% adalah buruh dan 17,5% adalah PNS. Jadi dapat dikatakan bahwa penduduk kelurahan Sumur Pecung sebagian besar bergerak di sektor jasa baik perusahaan maupun pemerintahan dan sebagian kecil adalah petani dan pertukangan.

            Sarana dan prasarana  yang ada di kelurahan Sumur Pecung adalah SD sebanyak 13 buah, SMP 2 buah, MTS 1 buah, SLTA  2 buah, Perguruan Tinggi 3 buah. Sedangkan sarana peribadatan adalah masjid sebanyak 20 buah, langgar 43 buah.

 

2. Karakteristik Responden

            Responden adalah ibu-ibu rumah tangga baik yang bekerja maupun yang tidak. Karakteristik responden berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel  4 di bawah ini:

 

Tabel 4. Karakteristik Responden berdasarkan Umur

No.

Umur Responden (Tahun)

Jumlah (Jiwa)

Persentase (%)

1.

26 – 29

3

10

2.

30 – 39

5

16.67

3.

40 – 49

11

36.67

4.

50 – 59

7

23.33

5.

60 – 69

4

13.33

 

Jumlah

30

100

 

            Dari tabel 4, terlihat bahwa sebagian besar ( 36,67 %) responden berumur  antara 40-49 tahun,  sebanyak (  23.33  %) berumur 50-59 tahun, dan ( 13  % )  berumur  60-69 tahun. Jika dilihat persentase umur responden keseluruhan adalah ibu-ibu rumah tangga usia lanjut.  

            Adapun karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 5 di bawah ini:

 

Tabel 5. Karakteristik Responden berdasarkan Tingkat Pendidikan

No.

Tingkat Pendidikan

Jumlah (Jiwa)

Persentase (%)

1.

SD

9

30

2.

SLTP

9

30

3.

SLTA

12

40

 

Jumlah

30

100

 

            Dari tabel  5 dapat dilihat bahwa 12 %  Responden berpendidikan SLTA, sedangkan lulusan SLTP   30%. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan  responden sudah  cukup lumayan, walaupun masih ada responden 30% berpendidikan SD.

            Selanjutnya mengenai karakteristik responden berdasarkan jenis pekerjaannya, bahwa sebagian besar  bahkan hampir  seluruh responden  adalah ibu rumah tangga, walaupun tingkat pendidikan mereka pada umumnya sudah cukup. Hanya ada dua responden saja  yang berprofesi sebagai guru.

 

3. Realitas Jumlah Buta Aksara Al-Qur’an pada Ibu-ibu Rumah Tangga di Kelurahan Sumur Pecung Kota Serang

            Untuk mengetahui jumlah buta aksara pada ibu-ibu rumah tangga di Kelurahan Sumur Pecung ini, kegiatan yang dilakukan adalah:

 

 

a.      Penetapan Lokasi Kegiatan

Lokasi untuk kegiatan penelitian ini ditetapkan di tiga RW yang berada di lingkungan kelurahan Sumur Pecung Kota Serang, yaitu Bungur Indah, Ciwaktu Kidul, dan Ciwaktu Lor.

b.      Pemetaan Warga Belajar dan Kelompok Belajar

Pemetaan warga belajar dan kelompok belajar ini didasarkan pada hasil tes kemampuan  baca  Al-Qur’an dengan klasifikasi  sebagai berikut:

1)     Tidak bisa baca Al-Qur’an.

2)       Lancar baca Al-Qur’an tapi terbata-bata.

3)       Lancar baca Al-Qur’an tetapi tidak sesuai dengan kaidah tajwid.

4)       Lancar baca Al-Qur’an sesuai kaidah tajwid.

 

Setelah diklasifikasikan, maka selanjutnya diadakan tes dengan menggunakan lembar penjajagan  IQRO guna menentukan dari buku IQRO jilid berapa pembelajaran  dimulai untuk masing-masing warga belajar. Sasaran penelitian ini adalah mereka yang berada  di urutan pertama yaitu  ibu-ibu rumah tangga yang benar-benar tidak bisa  baca Al-Qur’an. Dari jumlah sampel yang dites yaitu  253 ibu-ibu, maka ditetapkanlah sebanyak 30 ibu-ibu yang menjadi sasaran penelitian ini.  Jumlah tersebut dikelompokan menjadi 3 kelompok belajar (Pokjar), yang masing-masing kelompok terdiri atas 10 warga belajar dengan 2 tutor.

 

 

4. Faktor-faktor Penyebab Tingginya Angka Buta Aksara  Al-Qur’an pada  Ibu-ibu Rumah Tangga di Kelurahan Sumur Pecung.

 

              Dari hasil wawancara dan penyebaran kuisioner yang diajukan kepada responden, maka faktor-faktor penyebab tingginya angka buta aksara Al-Qur’an  adalah faktor intern (pribadi), faktor lingkungan, dan faktor ekonomi. Dari ketiga faktor  penyebab tersebut, faktor pribadi merupakan faktor tertinggi. Faktor tersebut antara lain adalah kurangnya minat dan motivasi untuk belajar Al-Qur’an sehingga tidak pernah belajar Al-Qur’an dengan tuntas (Data terlampir).

 

5.  Penerapan Metode IQRO dalam Pemberantasan Buta Aksara Al-Qur’an pada Ibu-ibu Rumah Tangga di Kelurahan Sumur Pecung Kota Serang

             

              Setelah ditentukan sasaran pemberantasan buta aksara Al-Qur’an yang disebut warga belajar sebanyak 30 ibu-ibu dan diketahuinya faktor penyebab tingginya buta aksara Al-Qur’an tersebut, maka selanjutnya dilaksanakan penerapan metode Iqro. Langkah-langkahnya adalah:

a. Menyiapkan kurikulum  dan modul-modul yang akan digunakan.  Dalam hal ini menggunakan  kurikulum dan modul yang sudah ada yaitu buku teks IQRO dari jilid I – VI, masing-masing warga belajar mendapat satu paket.

b.   Menetapkan tempat belajar. Dalam hal ini ditetapkan  tempat  belajar di musola dan masjid yang ada di sekitar lokasi penelitian, yaitu masjid At-Taqwa (Ciwaktu Kidul), masjid Baitur Rohman (Bungur Indah), dan Musola Nurul Amal (Waru Jaya).

c. Menyiapkan media belajar, yaitu alat yang dapat digunakan untuk memperlancar tujuan pembelajaran baik  media yang ada di sekitar lingkungan belajar, seperti whiteboard  maupun yang sengaja dibuat.

d.          Menetapkan kelompok  belajar. Dari jumlah warga belajar sebanyak 30 ibu-ibu tersebut, maka dibentuk menjadi 3 kelompok. Jadi setiap  kelompok terdiri atas 10 warga belajar yang ditempatkan di masing-masing tempat belajar yang sudah ditetapkan dengan dipandu oleh 2 tutor. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

     Tabel 6.  Kelompok Belajar Pemberantasan Buta Aksara Al-Qur’an

   

No.

Kelompok

Tempat

Jumlah

Warga belajar

Jumlah

Tutor

Ket.

1.

I

Masjid At-Taqwa

(Ciwaktu Kidul)

10

2

 

2.

II

Masjid Baitur Rahim

(Bungur Indah)

10

2

 

3.

III

Musola Nurul Amal

(Waru Jaya)

10

2

 

 

      Adapun daftar nama-nama warga belajar dan tutor terlampir.

e.  Selanjutnya membuat jadwal dan kontrak belajar, melalui kesepakatan antara  tutor dan warga belajar. Disepakati bahwa  waktu belajar 2 kali dalam satu minggu selama 3 bulan. Setiap pertemuan kurang lebih 90 menit  atau 1,5 jam, dengan rincian sebagai berikut: 1 jam pertama untuk membaca IQRO dan sisanya 30 menit untuk  belajar  menulis. Kegiatan ini dimulai dari bulan Mei sampai bulan Juli,

              Dengan berbagai macam kendala yang terjadi di lapangan, setelah dirata-ratakan jumlah kehadiran masing-masing warga belajar adalah 15 kali pertemuan. Dengan demikian waktu belajar efektif pada kegiatan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an ini hanya 2 bulan saja. Walau demikian, hal ini sudah sesuai dengan  konsep metode IQRO itu sendiri, bahwa berdasarkan pengalaman,  untuk orang dewasa agar dapat  menamatkan 6 jilid IQRO dibutuhkan 10-15 kali pertemuan. Daftar kehadiran peserta terlampir.

f.    Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa  seluruh warga belajar  mengalami peningkatan kemampuan baca tulis Al-Qur’an  yang luar biasa. Ini membuktikan keefektifan  metode IQRO yang digunakan dalam pemberantasan buta aksara Al-Qur’an. Karena  hanya dengan waktu 3 bulan dengan masa efektif  belajar 15 kali pertemuan saja, hampir  100%  yaitu 97% sudah lancar  membaca Al-Qur’an. Hanya 3%  atau 1 orang saja yang belum lancar. Oleh karena itu program pemberantasan buta aksara Al-Qur’an harus terus digulirkan  oleh pemerintah  bekerjasama dengan masyarakat luas, sehingga angka buta aksara Al-Qur’an  terus menurun sesuai dengan yang kita harapkan. Data prestasi warga belajar terlampir.

 

 

 

    

 

 

BAB VI

SIMPULAN DAN SARAN

 

1.  Simpulan

            Dari hasil penelitian dan pembahasan, diperoleh simpulan sebagai berikut:

1.      Masih tingginya  jumlah angka buta aksara Al-Qur’an pada ibu-ibu rumah tangga.

2.      Faktor penyebab  dari tingginya jumlah angka buta aksara pada ibu-ibu rumah tangga tersebut   adalah lebih kepada faktor intern atau pribadi saja yaitu kurangnya minat dan motivasi untuk terus belajar Al-Qur’an.

3.      Metode IQRO merupakan metode yang dianggap efektif  digunakan dalam rangka memberantas buta aksara Al-Qur’an pada ibu-ibu rumah tangga.

 

2.  Saran

1.   Disarankan kepada pemerintah yang telah menggulirkan program pemberantasan buta aksara baik di pusat maupun di daerah, agar jangan hanya terfokus pada pemberantasan buta aksara latin saja, karena pada kenyataannya masih tingginya jumlah angka buta aksara Al-Qur’an pada masyarakat kita yang mayoritas muslim. Hal ini perlu karena Al-Qur’an adalah kitab pedoman hidup umat Islam.

2.   Perguruan Tinggi diharapkan dapat melakukan pengabdian masyarakat melalui penyuluhan tentang pentingnya bisa baca-tulis Al-Qur’an untuk bekal menjadi muslim kaffah.

DAFTAR  PUSTAKA

 

Departemen Agama RI, (2002) Mushaf Al-Qur’an Terjemah, Jakarta: Pena Pundi Aksara

Fadlullah, (2008) Orientasi Baru Pendidikan Islam, Jakarta: Diadit Media

Humam, As’ad, (2000) Buku Iqro; Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur’an, edisi revisi, Yogyakarta: Balai Litbang LPTQ Nasional

Laporan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan  tentang Rencana Aksi Nasional (RAN) Pemberantasan Buta Aksara Perempuan (PBAP) tahun 2006,  Jakarta

Laporan PAP Bidang Pendidikan tentang Program Penuntasan Buta Aksara Latin dan Al-Qur’an dengan menggunakan metode Iqro tahun 2007 di Depok

Peraturan Pemerintah RI No. 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan

Radar Banten; Rubrik Utama, Program Buta Aksara Simpang Siur, edisi Senin 7 April 2008

Statistik Gender Bidang Pendidikan tahun 200-2004, BPS Pusat, Jakarta

Tim Penyusun, (1989) Kamus Besar Bahasa Indonesia, Depdikbud Jakarta: Balai Pustaka

Undang-undang Dasar 1945

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2002

Zakarsyi. Dachlan Salim, (1990) Metode Praktis Belajar Membaca Al-Qur’an, Semarang.

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 1:

KUISIONER

Faktor-faktor Penyebab terjadinya Buta Aksara Al-Qur’an

pada Ibu-ibu Rumah Tangga

A.          Identitas Responden

1.            Nama                             : ……………………………………..

2.            Tempat/Tgl. Lahir       : ……………………………………..

3.            Umur                             : ……………………………………..

4.            Pendidikan                    : ……………………………………..

5.            Pekerjaan                      : ……………………………………..

B.           Pertanyaan-pertanyaan

1.            Apakah di lingkungan ibu ada tempat untuk belajar  mengaji Al-Qur’an?

      a.Ya                                               b. Tidak

2.            Jika ada tempat untuk belajar mengaji Al-Qur’an, apakah jauh dari rumah ibu?                                 

a. Ya                                           b. Tidak

3.            Apakah di lingkungan ibu ada Ustadz/Ustadzah yang mengajarkan mengaji?

a. Ya                                           b. Tidak

4.            Apakah ibu waktu kecil  belajar mengaji Al-Qur’an?

a. Ya                                           b. Tidak

5.            Apakah Ibu belajar mengaji dengan orang tua sendiri?

a. Ya                                           b. Tidak

6.            Apakah ibu belajar mengaji  Al-Qur’an sampai tuntas?

a. Ya                                           b. Tidak

7.            Apakah ibu belajar mengaji Al-Qur’an karena disuruh orang tua?

a. Ya                                           b. Tidak

8.            Apakah dalam belajar mengaji al-Qur’an ada kendala  ekonomi?

a Ya                                            b. Tidak

9.            Apakah dalam belajar  mengaji Al-Qur’an  membutuhkan biaya yang banyak?

a. Ya                                           b. Tidak

10.        Apakah menurut ibu belajar mengaji Al-Qur’an  itu perlu atau tidak?

a.        Ya                                       b. Tidak

      Lampiran 2:

 

BIODATA KETUA PENELITI

 

      a. Nama Lengkap                          : Nanah Sujanah, S.Ag., M. SI.

      b. Jenis Kelamin                            : Perempuan

      c. NIP.                                           : 197011262003122001

      d. Disiplin Ilmu                             : Pendidikan Agama Islam

      e. Pangkat/Golongan                     : Penata Ahli/III-c

      f. Jabatan fungsional                     : Lektor

      g. Fakultas/Jurusan                        : Pertanian /Agribisnis

      h. Pendidikan Terakhir                  : S2 MSI UII Yogyakarta tahun 2002,

                                                       Konsentrasi Pendidikan Islam.

      i. Alamat                                       : Waru Jaya RT. 03/15 Bungur Indah

                                                         Kelurahan  Sumur  Pecung  Kota  Serang

                                                       Banten.

      j. Penelitian Terakhir                     : Persepsi Ibu-ibu Rumah Tangga terhadap

                                                              Tindak Kekerasan dalam Lingkup Keluarga

                                                               di Kelurahan Sumur Pecung Kota Serang

                                                        Banten, 2006

 

 

                                                                                    Serang, 6 Nopember 2009

 

 

                                                                                    Nanah Sujanah, S.Ag., M.SI

     

                                   

 

 

 

          Lampiran 3 :

 

BIODATA ANGGOTA PENELITI

 

         a. Nama Lengkap                 : Hj. Sri Mulyati, Ir., MM

         b. NIP.                                 : 196107102003122001

         c. Tempat/tgl Lahir               : Serang, 10 Juli 1961

         d. Jenis Kelami                     : Perempuan

         e. Agama                              :  Islam

         f. Pendidikan                       : Sarjana Pertanian, jurusan Gizi Masyarakat 

                                                  dan Sumber Daya Keluarga, IPB tahun

                                                  1984

         g. Alamat                             :  Jl. Gurita B2 No. 15 Komp. Grya

                                                   Gemilang Sakti serang. 0254-200118.

                                                   Hp.  0818949457.

             h. Penelitian                          : Persepsi Ibu-ibu Rumah Tangga terhadap

Tindak Kekerasan dalam Lingkup Keluarga                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       di Kelurahan Sumur Pecung Kota Serang  Banten, 2006

 

                                                                                        Serang, 6 Nopember 2009

 

                                                                                         

     Hj. Sri Mulyati, Ir., MM

     

 

 

 

 

 

Lampiran 4 :

 

Hasil Jawaban Kuisioner Responden

 

No. Res

pon

den

Nomor  Item

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

a

b

a

b

a

b

a

b

a

b

a

b

a

b

a

b

a

b

a

b

1.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

8.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

10.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

11.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

12.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

13.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

14.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

15.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

16.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

17.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

18.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

19.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

20.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

21.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

22.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

23.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

24.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

25.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

26.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

27.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

28.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

29.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

30.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jml

27

3

10

20

24

6

23

7

8

22

12

18

14

16

3

27

1

29

29

1

 

 

 

        

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 5 :

 

DAFTAR PRESTASI IQRO

NO

NAMA

UMUR

KELOMPOK

MULAI IQRO

TERAKHIR IQRO

KETERANGAN

1

Jamilah

30

1

2

6

lancar

2

Nafiah

 60 

1

2

5

lancar

3

Yati

36

1

2

4

lancar

4

Khadijah

50

1

2

6

lancar

5

Fatimah

50

1

2

6

lancar

6

Yanah

40 

1

2

6

lancar

7

Hamdanah

34

1

1

4

lancar

8

Sudiyati

41

1

1

4

lancar

9

Hj.Romlah

46

1

2

6

lancar

10

Halimah

48

1

2

4

lancar

11

Santiya

50

2

1

3

BL

12

Eti Suparti

50

2

2

6

lancar

13

Sarmiyati

55

2

2

5

lancar

14

Deuis

42

2

2

6

lancar

15

Ipah Sarifah

40

2

1

6

lancar

16

Devis

25

2

1

6

lancar

17

Eti Rohaeti

56

2

2

6

lancar

18

Anna

46

2

2

6

lancar

19

Lia Suliawati

48

2

1

5

lancar

20

A.Yati

47

2

2

6

lancar

21

Hartati

61

3

1

6

lancar

22

H.Masitoh

49

3

2

5

lancar

23

Entin Partiwi

62

3

1

6

lancar

24

Rahmawati

27

3

1

6

lancar

25

Mindahyati

37

3

2

6

lancar

26

Nur Amalia

25

3

2

6

lancar

27

Salfiah

59

3

2

6

lancar

28

liah

30

3

1

5

lancar

29

Siti Saokah

39

3

2

6

lancar

30

Badriah

59 

3

2

5

lancar

 

 

 

 

Lampiran 6 :

LEMBAR PENJAJAGAN IQRO

 

-

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

-

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

Lampiran 7 :

DAFTAR HADIR

 

 

 

 

 

 

 

 
 
Make a Free Website with Yola.